Watu Lempit Girikesumo, Wisata Sungai dengan Bebatuan yang Mirip Sisik Naga

Bantaran sungai dengan kontur batu berlipat-lipat mirip sisik naga membuat lokawisata baru di Kabupaten Demak ini banyak dikunjungi wisatawan. Gimana keseruan bermain air di tempat wisata yang diberi nama Watu Lempit ini?

Watu Lempit Girikesumo, Wisata Sungai dengan Bebatuan yang Mirip Sisik Naga
{"time":1634474082375,"blocks":{"7":{"type":"paragraph","data":{"text":"Inibaru.id - Cuaca panas terasa sangat\nmenyengat siang itu. Namun hal itu nggak\nmenyurutkan niat pengunjung untuk beriwsata ke Watu Lempit, sebuah sungai\ndi Desa Banyumeneng, Dukuh Girikesumo, Demak. "}},"8":{"type":"paragraph","data":{"text":"Wisata yang satu ini baru saja\ndibuka Maret 2021 lalu. Namun, karena sering dikunjungi pesepeda, lokawisata ini viral di jagat dunia maya. Lokasinya cukup terpencil, jaraknya\nsekitar 30 kilometer dari pusat Kota Semarang."}},"9":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/dibeli-perhiasanmu-mendulang-emas-di-emperan-jalan-kota-semarang","meta":{"url":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/dibeli-perhiasanmu-mendulang-emas-di-emperan-jalan-kota-semarang","type":"article","title":"Dibeli Perhiasanmu! Mendulang Emas di Emperan Jalan Kota Semarang","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Saat butuh uang, nggak jarang kita harus melego perhiasan. Sebagian orang mungkin ke pegadaian atau toko emas. Namun, sebagian sisanya tetap memilih menjualnya di lapak penadah emas di emperan jalan. ","image":"https://inibaru.id/media/16701/large/normal/5cb58b2f-4de6-4f4f-9ec9-3050e6e129e5__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/16701/large/normal/5cb58b2f-4de6-4f4f-9ec9-3050e6e129e5__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"10":{"type":"paragraph","data":{"text":"Patokannya, silakan berkendara ke arah timur menuju Mranggen, sebuah daerah yang berada di perbatasan Semarang-Demak. Kemudian, carilah Pesantren\nGirikesumo sebagai patokan. Dari pesantren, kamu tinggal\nbertanya ke warga sekitar di mana lokasi Watu Lempit."}},"11":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dengan berkendara santai, perjalanan dari pusat kota ke lokawisata ini memakan waktu sekitar 45 menit. Dari pesantren itu, jaraknya nggak lebih dari 500 meter dengan akses jalan cukup oke untuk dilalui kendaraan roda dua atau roda empat."}},"12":{"type":"ads"},"13":{"type":"paragraph","data":{"text":"Saat tiba di lokasi, kamu akan\ndisuguhi pemandangan megah dari Sungai Markaban. Sebetulnya, sungai ini biasa saja, alirannya nggak terlalu deras dengan kedalaman setinggi sepinggang anak-anak. Karena dangkal dan airnya agak jernih, kamu bisa melihat dasar sungai dengan jelas."}},"14":{"type":"paragraph","data":{"text":"Yudha, pengelola Watu Lempit mengatakan, sungai ini punya\nkeunikan kontur batu yang berlipat-lipat secara simetris, seolah-olah mirip\nsisik naga. Airnya juga bersih dan jernih."}},"15":{"type":"paragraph","data":{"text":"\"Wisata ini cocok untuk\nanak-anak bermain air di sini,” ujarnya, Jumat (15/10/2021)."}},"16":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/terapi-akupunktur-semarang-di-tengah-pusaran-obat-paten-dan-masyarakat-modern","meta":{"url":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/terapi-akupunktur-semarang-di-tengah-pusaran-obat-paten-dan-masyarakat-modern","type":"article","title":"Terapi Akupunktur Semarang di Tengah Pusaran Obat Paten dan Masyarakat Modern","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Di tengah modernitas zaman dan pusaran obat paten di pasaran, terapi akupunktur rupanya masih diminati masyarakat Semarang. Hal ini salah satunya terlihat dengan masih banyaknya orang yang mengantre di klinik terapi akupunktur di kota tersebut.","image":"https://inibaru.id/media/17179/large/normal/af361eb3-8679-42dd-bea1-ef8c7d303925__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/17179/large/normal/af361eb3-8679-42dd-bea1-ef8c7d303925__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"17":{"type":"paragraph","data":{"text":"Di lokawisata\nini, lanjutnya, juga ada ikon jembatan besi peninggalan zaman Belanda. Dulunya jembatan ini\ndigunakan untuk transportasi kereta dorong yang mengangkut barang dagangan."}},"18":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dua hal itu yang paling menarik\nmata wisatawan untuk berkunjung ke sini. Salah satunya adalah Sri Masiroh, yang sejak viral di media sosial sudah menginginkan pergi ke tempat tersebut, tapi baru kesampaian sekarang ini."}},"19":{"type":"ads"},"20":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Penasaran banget karena lihat di\nInstagram kok kayaknya bagus dan unik. Sesampainnya di sini ternyata memang\nbagus banget, hawanya sejuk dan asri, cocok untuk bersantai,” ujar Sri Masiroh,\nJumat (15/10)."}},"21":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sri hanya perlu merogoh kocek Rp 7.500\nuntuk masuk ke lokawisata ini. Kalau datang pada akhir pekan, di sini bahkan ada\npertunjukan kesenian seperti barongsai, drum band, dan lain-lain.(Triawanda Tirta Aditya/E03)"}},"22":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17473/large/normal/c0d95317-af52-4e16-a143-b825c88814a8__large.jpg"},"caption":"Suasana suka cita pengunjung Watu Lempit saat bermain air.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"23":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17474/large/normal/025bd0fa-815c-40a8-81b2-0df5da12981a__large.jpg"},"caption":"Anak-anak asyik bermain air di sungai ini.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"24":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17475/large/normal/6d76726a-5a1c-4746-bb7e-79bc7a422121__large.jpg"},"caption":"Sungai ini diapit hutan dan pohon.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"25":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17476/large/normal/574b99bb-a347-4727-862e-fb65202e8c08__large.jpg"},"caption":"Pemandangan jembatan dari bawah sungai.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"26":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17477/large/normal/b4931e1d-90ed-452b-aa0d-f10ca1f42aca__large.jpg"},"caption":"Udara di sini sangat segar dan cocok untuk dijadikan tempat bersantai.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"27":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17478/large/normal/1ef6aef9-cf7b-45d1-a9c5-3af2235fff03__large.jpg"},"caption":"Wisatawan bisa berkunjung ke sini saat pagi atau sore hari.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"28":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17479/large/normal/f31d9836-a584-4417-a0f7-39d13e03bddd__large.jpg"},"caption":"Gemercik air sungai yang jernih dan menyegarkan mata.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"29":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17480/large/normal/9d21bb9f-0828-4585-b82d-110ccc0e7ed2__large.jpg"},"caption":"Sungai ini diapit hutan dan pohon.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"30":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17481/large/normal/d0f9f76e-918c-40d6-a4fe-309d78c8b650__large.jpg"},"caption":"Batu-batu ini terbentuk secara alami.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"31":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17482/large/normal/56e932bc-5aa6-45a7-9e6a-9c3d9c68704a__large.jpg"},"caption":"Ada jembatan kuno peninggalan Belanda di atas sungai.","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}}},"version":"2.15.1"}