Ken Dedes, Perempuan Molek yang Jadi Ibu Para Raja di Jawa

Selain cantik, Ken Dedes juga melahirkan keturunan yang menjadi pucuk pimpinan kerajaan di Jawa. Bahkan, raja dari dua kerajaan yang kini masih eksis di Jawa pun disebut-sebut juga keturunan dari perempuan ini.

Ken Dedes, Perempuan Molek yang Jadi Ibu Para Raja di Jawa
Patung Ken Dedes di Malang, Jawa Timur. (Terakota)
{"time":1602855264152,"blocks":{"7":{"type":"paragraph","data":{"text":"Inibaru.id - Kengkis\nwetisira, kengkab tekeng rahasyanica, nener katon murub denira Ken Angrok. Itulah yang ditulis Pararaton yang kira-kira\nberarti “Tersingkap\nbetisnya, bercahaya sampai rahasianya terlihat oleh Ken Arok–abdi dalem Tumapel.”"}},"8":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dalam naskah berbahasa Kawi itu, dikisahkan Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes yang saat itu sedang mengandung anak\ndari Tunggul Ametung. Inilah ihwal sejarah panjang Tumapel-Singasari tercipta. Dari\nrahim Dedes, wangsa rajasa atau generasi raja-raja di Tanah Jawa pun dimulai."}},"9":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sejak 1222, pemimpin\nkerajaan Majapahit hingga Singasari adalah keturunan Dedes. Singasari dipimpin Anusapati, Ranggawuni, dan Kertanegara. Hanya Tohjaya (versi Pararaton) yang bukan anak Dedes. Sosok yang hanya memerintah seumur jagung itu adalah anak Ken Arok dengan Ken Umang."}},"10":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/10135/large/normal/077cccc3-b825-42e1-9534-445194a6942c__large.jpg"},"caption":"Kesunanan Surakarta dipimpin oleh keturunan Ken Dedes. (Timlo.net)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"11":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sementara, Majapahit didirikan Raden Wijaya, yang juga merupakan keturunan Dedes-Arok. Majapahit kemudian ditumpas Kerajaan Demak, yang juga dipimpin keturunan Dedes-Arok, di antaranya Raden Patah, Dipati Unus, sampai Sultan Trenggono."}},"12":{"type":"paragraph","data":{"text":"Pun ketika Demak ditaklukkan Pajang, yang menjadi raja adalah Sultan Hadiwijaja\n(Joko Tingkir). Dia merupakan anak Ki Ageng Pengging, yang masih keturunan Majapahit."}},"13":{"type":"link","data":{"link":"https://www.inibaru.id/tradisinesia/petaka-ken-arok-kepincut-betis-ken-dedes-yang-bercahaya","meta":{"url":"https://www.inibaru.id/tradisinesia/petaka-ken-arok-kepincut-betis-ken-dedes-yang-bercahaya","type":"article","title":"Petaka Ken Arok, Kepincut Betis Ken Dedes yang Bercahaya","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Ingat kisah Ken Arok dan Ken Dedes? Dikisahkan Arok jatuh cinta pada Dedes karena melihat betisnya yang tersingkap dan memancarkan cahaya terang. Tapi, gara-gara betis itu juga nyawa Arok beserta 7 keturunannya harus binasa.","image":"https://www.inibaru.id/media/9464/large/normal/dbd2072c-ff98-4f74-8c87-e8fe68565ffa__large.png","image:secure_url":"https://www.inibaru.id/media/9464/large/normal/dbd2072c-ff98-4f74-8c87-e8fe68565ffa__large.png","image:width":"470","image:height":"312"}}},"14":{"type":"paragraph","data":{"text":"Pajang\nruntuh, kemudian muncullah Mataram dengan raja bernama Sutawijaya. Kakek buyut Sutawijaya adalah Bondan Kejawan , yang merupakan anak dari Brawijaya."}},"15":{"type":"paragraph","data":{"text":"Selesai? Tentu saja belum. Keturunan Dedes bahkan masih memerintah hingga kini karena Kesultanan Yogyakarta\ndan Kesunanan Surakarta adalah keturunan Panembahan Senopati alias Raden Sutawijaya."}},"16":{"type":"header","data":{"text":"Seperti Apa Rupa Ken Dedes?","level":2}},"17":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/10136/large/normal/7047962b-7ee5-4a00-be9b-e02745256b9e__large.jpg"},"caption":"Arca Prajnaparamita. (Djoko Luknanto)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"18":{"type":"paragraph","data":{"text":"Arca Prajnaparamita berupa sosok perempuan molek yang diperkirakan dari abad ke-13\ndipercaya sebagai perwujudan Ken Dedes. Namun, ada yang berpendapat arca ini\nmengarah pada Gayatri Rajapatni, permaisuri pertama Raja\nMajapahit."}},"19":{"type":"paragraph","data":{"text":"Paul Drake,\nsejarawan University of British Columbia mengatakan, arca ini\nmenggambarkan Gayatri. Menurutnya, gaya artistiknya berasal dari gaya era Majapahit. Dirinya menyebut Gayatri merupakan perempuan pemikir pada zamannya."}},"20":{"type":"link","data":{"link":"https://www.inibaru.id/pasar-kreatif/pandai-besi-juyono-melegenda-di-semarang-hanya-jualan-tiap-kliwon","meta":{"url":"https://www.inibaru.id/pasar-kreatif/pandai-besi-juyono-melegenda-di-semarang-hanya-jualan-tiap-kliwon","type":"article","title":"Pandai Besi Juyono: Melegenda di Semarang, Hanya Jualan Tiap Kliwon","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Puluhan tahun menjadi pandai besi, Juyono hanya menjual dagangannya di Pasar Gunungpati Semarang saban hari pasaran Kliwon. Namun demikian, produk bikinannya selalu laku keras dan pembelinya bisa sampai luar Jawa.","image":"https://www.inibaru.id/media/10067/large/normal/2b3ed3e1-b87d-4524-b01b-cd9fc24e50a4__large.jpg","image:secure_url":"https://www.inibaru.id/media/10067/large/normal/2b3ed3e1-b87d-4524-b01b-cd9fc24e50a4__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"21":{"type":"paragraph","data":{"text":"Hal ini dikuatkan\noleh Deni Yudo Wahyudi yang kini berbalik percaya bahwa arca tersebut\nmengacu pada Gayatri. Hal ini didasarkan pada temuan bahwa lokasi Kerajaan\nSingasari pada era Ken Dedes bukanlah di Singasari, melainkan kawasan Gunung Buring, 20\nkilometer arah barat Kota Malang."}},"22":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sementara, sejarawan Agus\nArismunandar menyebut dalam bukunya bahwa setelah Gayatri meninggal, dibuatlah arca Prajnaparamita dan disimpan di Prajnaparamitapuri di Bhayalangu\n(Boyolangu, Tulungangung)."}},"23":{"type":"paragraph","data":{"text":"Namun, dalam Kakawin Negarakertagama, sumber\nsejarah Majapahit, ada kata yang ditafsirkan bahwa ada dua\nPrajnaparamita yang mengacu pada Ken Dedes. Nah!"}},"24":{"type":"paragraph","data":{"text":"Wah, wah, kisah Dedes, sosok cergas yang bersumber pada Pararaton ini memang selalu menarik diulik ya, Millens! (Tum/IB27/E03)"}},"25":{"type":"link","data":{"link":"https://www.inibaru.id/foto-esai/dibuang-sayang-spanduk-aksi-tolak-omnibus-law-semarang","meta":{"url":"https://www.inibaru.id/foto-esai/dibuang-sayang-spanduk-aksi-tolak-omnibus-law-semarang","type":"article","title":"Dibuang Sayang, Spanduk Aksi Tolak Omnibus Law Semarang","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Menjadi cara para demonstran menyuarakan pesan, spanduk aksi kini nggak sekadar ditulisi kata-kata lugas nan provokatif. Di antara gelombang demonstrasi, sering terlihat spanduk mengkritik yang unik, bahkan kerap mengundang gelak tawa, termasuk di aksi tolak Omnibus Law di Semarang.","image":"https://www.inibaru.id/media/9980/large/normal/93329b75-c47e-4b31-b582-7a5b8cf84286__large.jpg","image:secure_url":"https://www.inibaru.id/media/9980/large/normal/93329b75-c47e-4b31-b582-7a5b8cf84286__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}}},"version":"2.15.1"}