Nggak Ada yang Mau Kalah, Dua Atlet dari Qatar dan Italia Berbagi Medali Emas

Sama-sama mencatatkan lompatan 2,37 meter, atlet Qatar Mutaz Barshim dan atlet Italia Gianmarco Tamberi berbagi medali emas. Keduanya benar-benar mencatatkan raihan dan kegagalan lompatan yang identik. Kasus unik ini baru kali pertama terjadi sejak 1912.

Nggak Ada yang Mau Kalah, Dua Atlet dari Qatar dan Italia Berbagi Medali Emas
Atlet lompat tinggi dari Qatar dan Italia berbagi medali emas. Mutaz Barshim dan Gianmarco Tamberi sama-sama mencatat lompatan 2,37 meter. (Indianexpress/Reuters Photo)
{"time":1627885616221,"blocks":{"7":{"type":"paragraph","data":{"text":"Inibaru.id – Kisah-kisah unik terus bermunculan di Olimpiade\nTokyo 2020. Kali ini, dua atlet lompat tinggi dari Qatar dan Italia berbagi\nmedali emas karena nggak ada yang mau kalah. Keduanya benar-benar mencatatkan\nlompatan yang identik, yakni 2,37 meter sehingga panitia pun memutuskan bahwa\nkeduanya adalah pemenang."}},"8":{"type":"paragraph","data":{"text":"Kedua atlet\ntersebut adalah Mutaz Barshim dan Gianmarco Tamberi. Barshim yang dari Qatar\ndan Tamberi yang dari Italia sebenarnya sempat melakukan lompatan lagi untuk\nmenentukan siapa pemenangnya, yakni dengan ketinggian rintangan 2,39 meter.\nNamun, keduanya pun sama-sama gagal meski sudah mencoba 3 kali. Alhasil,\npertandingan pun jadi seri."}},"9":{"type":"paragraph","data":{"text":"Pantia pun\nakhirnya menemui keduanya untuk memberikan pilihan. Mereka bisa melakukan\nlompatan lagi untuk menentukan siapa yang terbaik. Nah, saat diberi pertanyaan\nini, Barshim justru menanyakan opsi lain."}},"10":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Apakah\nkami bisa mendapatkan dua medali emas?” tanyanya kepada panitia di video yang\nviral di berbagai media."}},"11":{"type":"ads"},"12":{"type":"paragraph","data":{"text":"Ternyata,\npanitia menyebut pilihan Barshim bisa saja terjadi. Tamberi yang awalnya\nterkejut langsung tersenyum, melompat, dan memeluk Barshim. Keduanya pun setuju\nuntuk berbagi medali emas dan kemudian merayakannya."}},"13":{"type":"paragraph","data":{"text":"Karena\nnggak ada yang jadi nomor dua, otomatis medali perak pun ditiadakan di ajang\nlompat tinggi Olimpiade Tokyo 2020. Nah, yang bikin tambah menarik, sebenarnya\nperingkat tiga yang diraih oleh Maksim Nedesekau dari Belarusia juga mencatat\nketinggian lompatan yang sama dengan Barshim dan Tamberi, yakni 2,37 meter.\nHanya, upaya gagalnya lebih banyak dari kedua atlet sebelumnya sehingga dia pun\nhanya mendapatkan medali perunggu."}},"14":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/16432/large/normal/7bb14dd9-13d5-4faf-b3e9-3e3d4933d06e__large.jpg"},"caption":"Gips yang dipakai Tamberi saat cedera selalu dibawa saat berlaga di Olimpiade Tokyo 2020. (worldtoday.buzz)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"15":{"type":"header","data":{"text":"Baru Kali\nIni Terjadi Sejak 1912","level":2}},"16":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dua medali\nemas untuk dua atlet yang nggak mau kalah karena mencatatkan hasil yang sama di\nOlimpiade ternyata nggak kali ini terjadi. Sebelumnya, hal ini terjadi pada\n1912."}},"17":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Kami\nsaling memandang dan kami tahu, itu (perlombaan sudah selesai). Tidak perlu\n(melakukan lompatan lagi untuk menentukan pemenang),” ujar Barshim tentang\ntawaran untuk melakukan lompatan lagi sebagaimana dikutip dari The Independent."}},"18":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/foto-esai/menjalani-profesi-rope-access-sehari-hari-bergantung-pada-seutas-tali-di-ketinggian","meta":{"url":"https://inibaru.id/foto-esai/menjalani-profesi-rope-access-sehari-hari-bergantung-pada-seutas-tali-di-ketinggian","type":"article","title":"Menjalani Profesi Rope Access, Sehari-hari Bergantung pada Seutas Tali di Ketinggian","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Nggak banyak yang tahu siapakah yang memasang baliho di ketinggian atau spanduk di dinding gedung belasan lantai di Kota Semarang. Inilah pekerjaan para rope access, yang sehari-hari bergelantungan pada seutas tali di ketinggian.","image":"https://inibaru.id/media/16335/large/normal/d0327dfe-f2e7-45af-a7e9-f4a9d2d7e8c1__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/16335/large/normal/d0327dfe-f2e7-45af-a7e9-f4a9d2d7e8c1__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"19":{"type":"paragraph","data":{"text":"Bagi\nTamberi, medali emas ini sangat berarti baginya. Bagaimana nggak, hanya\nbeberapa hari sebelum Olimpiade Rio 2016, dia mengalami cedera pergelangan kaki\nyang membuatnya hanya menangis menonton rekan-rekannya berlaga. Dia mampu\nbangkit, kembali ke dunia atletik, dan akhirnya lolos ke Olimpiade 2020."}},"20":{"type":"paragraph","data":{"text":"Demi\nmenambah semangat saat bertanding, Tamberi bahkan selalu membawa gips yang dia\npakai saat cedera sebelum Olimpiade Rio tersebut. Di gips tersebut, dia menulis\n“Road to Tokyo 2021” sebagai pengingat perjuangannya untuk berlaga di\nOlimpiade."}},"21":{"type":"ads"},"22":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Ini\nberarti segalanya bagi saya,” terang Tamberi terkait kemenangannya."}},"23":{"type":"paragraph","data":{"text":"Nggak\nnyangka ya, Millens, ternyata medali\nemas Olimpiade juga bisa dibagi ke dua atlet. Tapi, mereka berdua memang pantas\nmendapatkannya. (Faj, Tem/IB09/E05)"}}},"version":"2.15.1"}