‘Petik Merah’ di Tengah Rangkaian Mata Rantai Kopi Temanggung

Bukan sekadar meneruskan usaha keluarga, kepulangan Cahyo juga bertujuan untuk mengembangkan metode ‘petik merah’ bagi para petani sekaligus mencoba menjadi bagian yang menguatkan mata rantai kopi Temanggung.

‘Petik Merah’ di Tengah Rangkaian Mata Rantai Kopi Temanggung
Cahyo Pratomo, petani muda sekaligus penggerak metode "petik merah" untuk pemanenan kopi Temanggung. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)
{"time":1630922647777,"blocks":{"7":{"type":"paragraph","data":{"text":"Inibaru.id - Hujan\nbaru saja reda. Kedai kopi yang jadi tempat pertemuan kami juga baru buka.\nCahyo Pratomo, orang yang akan saya temui untuk kali kedua, yang kemudian saya ketahui sebagai\npemilik kedai, tengah sibuk menata kursi dan meja di selasar coffee shop, lalu mengelap bagian-bagian\nyang basah terguyur hujan."}},"8":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Duduk dulu, Mas!” ujarnya sopan, lalu memohon izin dan\nsegera menghilang di balik pintu yang terletak di samping bar. Saya hanya mengangguk karena merasa pangling dengan penampilan petani kopi asal Kabupaten Temanggung yang kali ini terlihat agak \"rapi\" tersebut."}},"9":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/menjual-wayang-kulit-di-media-sosial-cara-promosi-pengrajin-wayang-kekinian","meta":{"url":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/menjual-wayang-kulit-di-media-sosial-cara-promosi-pengrajin-wayang-kekinian","type":"article","title":"Menjual Wayang Kulit di Media Sosial, Cara Promosi Pengrajin Wayang Kekinian","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Menjual wayang kulit di media sosial menjadi cara promosi yang menarik. Kendati pengrajin wayang di era sekarang kurang diperhitungkan, para pembeli terus saja berdatangan. ","image":"https://inibaru.id/media/16826/large/normal/425bd2e7-0616-4cb8-a375-3f645e4bc798__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/16826/large/normal/425bd2e7-0616-4cb8-a375-3f645e4bc798__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"10":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sebelum duduk, saya memilih mengitari kedai bernama Depan\nRumah yang berlokasi di bilangan Gunungpati, Kota Semarang, itu. Seperti\nnamanya, kedai ini memang laiknya bagian depan rumah; terdiri atas ruang tamu\nuntuk bar dan teras depan sebagai tempat dine-in."}},"11":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sayang, belum sempat mengitari kedai, hujan kembali turun.\nSaya masuk, lalu memilih duduk di sofa panjang di depan coffee bar. Pada saat bersamaan, Cahyo keluar dengan membawa\nsegelas kopi moktail dingin untuk saya. Dia juga sudah berganti pakaian, mengenakan\ncelana denim dengan kaus putih polos."}},"12":{"type":"ads"},"13":{"type":"paragraph","data":{"text":"Segera setelah menyeret satu kursi besi dengan dudukan\nbundar dan duduk di depan saya, dia mempersilakan saya mencicipi minuman\nspesial di kedai yang baru buka dua bulan tersebut. Minuman yang saya lupa\ntanyakan namanya ini bercita rasa manis-asam, paduan kopi dengan jus nanas."}},"14":{"type":"paragraph","data":{"text":"Cahyo sudah tahu maksud kedatangan saya siang itu, sekitar dua pekan lalu. Kami pernah sekali bertemu di kebunnya yang berada di daerah Candiroto, Temanggung, tapi nggak sempat ngobrol. Baru sekarang saya punya kesempatan menanyakan keputusannya menjadi petani kopi."}},"15":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Dulu saya sempat jadi guru juga, tapi ndak kuat. Cuma bertahan tiga bulan, terus keluar,” tutur Cahyo,\nyang kemudian saya ketahui memiliki gelar sarjana pendidikan di Universitas\nNegeri Semarang (Unnes) tersebut. “Ya, passion\nsaya petani.”"}},"16":{"type":"header","data":{"text":"Memproduksi Kopi Premium","level":1}},"17":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17017/large/normal/60f6d4c4-a86e-4c68-be94-29141605dd29__large.jpg"},"caption":"Cahyo menunjukkan buah kopi petik merah di kebun kepunyaannya. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"18":{"type":"paragraph","data":{"text":"Jauh sebelum benar-benar menekuni kopi pada 2018, Cahyo memang sudah lama jatuh cinta pada si hitam tersebut sejak kecil. Dia dibesarkan\ndari keluarga yang hidup dari kopi. Mendiang bapaknya, Haji Mundir, adalah petani\nkopi; sementara ibunya, Hajah Triyani, adalah penjual kopi dan rempah-rempah."}},"19":{"type":"paragraph","data":{"text":"Namun, kuliah di Semarang membuat kecintaan lelaki 29 tahun ini pada kopi terpaksa ditekannya, kendati nggak sepenuhnya dia dilupakan. Justru di kota itulah wawasan kopinya\nberkembang. Sembari kuliah, dia juga belajar mendetail mengenai kopi."}},"20":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Turu (tidur)\nmikir kopi. Tangi (bangun) mikir\nkopi. Njuk jane ke kenapa (Sebetulnya\nsaya ini kenapa)? ujarnya dengan bahasa Jawa dialek Temanggung yang kental,\nmengungkapkan kegusarannya pada para petani di Temanggung. Kegusaran inilah yang pada akhirnya menuntun Cahyo pulang."}},"21":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/sugar-glider-penyuka-manis-dari-tanah-papua-yang-lincah-dan-manja","meta":{"url":"https://inibaru.id/pasar-kreatif/sugar-glider-penyuka-manis-dari-tanah-papua-yang-lincah-dan-manja","type":"article","title":"Sugar Glider, Penyuka Manis dari Tanah Papua yang Lincah dan Manja","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Mampu mengenali aroma sang pemilik, sugar glider atau yang di Tanah Papua lebih sering disebut wupih sirsik ini diminati pencinta hewan lantaran jinak dan suka bermanja-manja dengan pemiliknya. Tingkah penyuka manis ini juga lincah dan manja, membuat siapa pun ingin memilikinya.","image":"https://inibaru.id/media/15944/large/normal/2645e1d0-503f-4b7f-8d46-38b90029c07a__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/15944/large/normal/2645e1d0-503f-4b7f-8d46-38b90029c07a__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"22":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dia yang semula menganggap kopi hanya sebagai hasil bumi\nyang ditebas (dijual menyeluruh) ke\ntengkulak sebagaimana orang tua dan kebanyakan petani kopi Temanggung lakukan,\nmulai melihat cara lain yang lebih menguntungkan."}},"23":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Mulai sinau\n(belajar) petik buah kopi yang benar, proses pengolahan yang sesuai, dan ke\nmana bisa ngelempar (menjual) barang agar harganya sesuai,” tegas Cahyo."}},"24":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17020/large/normal/ff403e4e-8a6c-4afa-a7d6-ce9131d23bcc__large.jpg"},"caption":"Penyortiran buah kopi petik merah oleh masyarakat Temanggung. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"25":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dari ilmu yang didapatkan tersebut, dia pun mulai mencoba\nmempraktikkannya di rumah. Mudah? Tentu saja tidak. Orang pertama yang\nmenentangnya adalah sang ibu. Cahyo paham, ibunya sudah mengolah kopi jauh\nsebelum dirinya dilahirkan, sedangkan dia hanyalah pemula."}},"26":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Ibuk penginnya\nCahyo dadi (jadi) guru,” tuturnya,\nmenirukan wejangan sang ibu kala itu."}},"27":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/pengrajin-wayang-gen-z-ekky-prananda-saya-menonton-membuat-dan-melestarikan","meta":{"url":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/pengrajin-wayang-gen-z-ekky-prananda-saya-menonton-membuat-dan-melestarikan","type":"article","title":"Pengrajin Wayang Gen-Z, Ekky Prananda: Saya Menonton, Membuat, dan Melestarikan","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Sering diajak menonton pergelaran wayang sejak balita, Ekky Prananda sudah bisa membuat wayang sendiri saat duduk di bangku kelas 4 SD. Kini, lelaki berusia 23 tahun itu dikenal sebagai pengrajin wayang gen-z yang karya-karyanya sangat diminati para kolektor dalam negeri dan mancanegara.","image":"https://inibaru.id/media/16817/large/normal/3e6820c5-5533-4946-b3ae-8ea90fb7c5cc__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/16817/large/normal/3e6820c5-5533-4946-b3ae-8ea90fb7c5cc__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"28":{"type":"paragraph","data":{"text":"Namun, anak ketiga dari empat bersaudara tersebut nggak\npatah arang. Cahyo tetap menerapkan metode “petik merah” saat memanen kopi\nrobusta di kebunnya, lalu memproses cerries\n(istilah untuk buah kopi) sesuai dengan yang diinginkan pembeli."}},"29":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Waktu itu belum bisa kasih bukti apa-apa. Setiap mau\nberangkat (menjual kopi), bisanya ya cuma bilang (ke ibu), ‘Nyuwun restune mawon (minta doa saja),’ terus salim (cium telapak tangan),” tutur Cahyo lirih, kalah dengan hujan\nlebat di luar. “Alhamdulillah,\nhasilnya ada, bisa dibagi ke ibu sedikit-sedikit.”"}},"30":{"type":"header","data":{"text":"Berhadapan dengan Petani Tua","level":1}},"31":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17018/large/normal/cdad2a2c-5ee0-4358-b88e-43bfe9fb1a33__large.jpg"},"caption":"Cahyo tengah memeriksa proses pengolahan kopi hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"32":{"type":"paragraph","data":{"text":"Petik merah adalah istilah untuk pemanenan kopi yang\ndilakukan setelah buah benar-benar matang, berwarna merah. Ini dilakukan agar\nbiji kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik dan seragam. Dalam dunia\nperkopian, produk yang biasa disebut premium ini biasanya dibanderol dengan harga yang lebih tinggi."}},"33":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sayang,\nsebagian besar petani di Temanggung, menurut pengakuan Cahyo, belum menerapkan\nmetode ini. Mereka memilih memanen apa adanya dengan membabat seluruh buah,\nbaik yang sudah matang maupun masih hijau, lalu dijual ke pengepul."}},"34":{"type":"paragraph","data":{"text":"Kadang, pascapanen ada petani memisahkan buah matang dari\nyang masih hijau untuk dijual dengan harga lebih mahal. Namun, tentu saja\njumlahnya nggak banyak, berbeda dengan jika dipetik saat benar-benar sudah\nmatang di pohon."}},"35":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Petik merah memang lebih lama. Mereka (petani) pilih yang\npenting cepat jadi duit. Ujung-ujungnya ya panen apa adanya, dijual ke pabrik\ndengan harga sama,” bebernya."}},"36":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/sejoli-juru-kunci-di-tengah-permakaman-bergota-semarang","meta":{"url":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/sejoli-juru-kunci-di-tengah-permakaman-bergota-semarang","type":"article","title":"Sejoli Juru Kunci di Tengah Permakaman Bergota Semarang","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Tempat permakaman selalu identik dengan penjaganya atau yang akrab disebut juru kunci. Nah, di salah satu permakaman terbesar di Kota Semarang, yakni Bergota, ada sejoli juru kunci yang menjaganya.","image":"https://inibaru.id/media/15777/large/normal/bced4dc7-924d-4b84-86d2-27310b0bcb35__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/15777/large/normal/bced4dc7-924d-4b84-86d2-27310b0bcb35__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"37":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Zona nyaman” yang dipilih para petani itu tentu saja\nmembuat Cahyo kesulitan mewujudkan mimpi besarnya, yakni menjadikan Kopi\nTemanggung sebagai sentra produk kopi premium di Jawa laiknya Kopi Gayo di\nSumatra atau Kopi Toraja di Sulawesi."}},"38":{"type":"paragraph","data":{"text":"Namun, dia nggak kehilangan akal. Gagal menggandeng para\npetani yang kebanyakan sudah tua itu, dia pun mendekati anak-anak petani yang kebanyakan\nseumuran dengan dirinya. Sedikit demi sedikit, Cahyo melakukan persuasi sembari\nmembuka jaringan dan jalan untuk “melempar barang”."}},"39":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Jaringan ibuk tak\njajaki. Pokoknya cari pembeli. Teman-teman di Temanggung yang berminat, tak ajari. Penginnya bareng-bareng biar\nbisa saling bantu. Kalau pas butuh banyak barang, bisa disokong bersama,” kata\nCahyo, yang mengaku belakangan “perjudian”-nya itu mulai membuahkan hasil."}},"40":{"type":"header","data":{"text":"Dinaungi Keberuntungan","level":1}},"41":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17019/large/normal/224563c3-6ebd-4c20-93ab-57fc5230e0ee__large.jpg"},"caption":"Cahyo (kanan) tengah menunjukkan biji kopi hasil petik merah yang tengah dijemur kepada Reza Sarsito (paling kiri), owner Kopen Indonesia. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"42":{"type":"paragraph","data":{"text":"Cahyo mengatakan, dia nggak bakal menjadi seperti yang\nsekarang tanpa keberuntungan dan orang-orang baik di sekelilingnya. Awal\nmerintis usahanya dulu, dia mengaku pernah kekurangan modal untuk mengolah\nkopi. Tiba-tiba, seseorang memberinya uang Rp 100 juta."}},"43":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Dia temannya teman saya. Waktu itu saya bilang harus ngolah\nkopi; saya jelaskan detail dan keuntungannya. Mendadak dia kasih uang banyak\nbanget,” kenang Cahyo sembari menyulut rokok di tangan kirinya."}},"44":{"type":"paragraph","data":{"text":"Keberuntungan lain, saat Cahyo mulai menjalin jaringan\ndengan sejumlah petani muda di Temanggung, dia mendapatkan “ikan besar”. Lelaki\nbertubuh tegap yang sebelumnya hanya mampu menyuplai maksimal tiga ton pesanan\nbiji kopi premium, mendadak dapat pesanan dua kali lipat."}},"45":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Mas Reza order enam ton untuk diekspor!” serunya senang."}},"46":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/lebih-dekat-dengan-asem-kawak-komunitas-penjual-barang-antik-yang-kerap-ganti-nama-dan-lokasi","meta":{"url":"https://inibaru.id/inspirasi-indonesia/lebih-dekat-dengan-asem-kawak-komunitas-penjual-barang-antik-yang-kerap-ganti-nama-dan-lokasi","type":"article","title":"Lebih Dekat dengan Asem Kawak, Komunitas Penjual Barang Antik yang Kerap Ganti Nama dan Lokasi","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Setelah berganti nama beberapa kali, kini komunitas pedagang barang antik menamai dirinya sebagai Asem Kawak atau Antikan Semarang Kawasan Kota Lama. Di gedung GIK yang berada di belakang Gereja Blenduk ini, berbagai barang antik dari pelbagai penjuru Indonesia dijual.","image":"https://inibaru.id/media/15850/large/normal/e42846b6-3e67-4d75-bd81-67f4dc58a0d9__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/15850/large/normal/e42846b6-3e67-4d75-bd81-67f4dc58a0d9__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"47":{"type":"paragraph","data":{"text":"Reza yang dimaksud Cahyo adalah Reza Sarsito, owner PT Kopi\nPersada Negeri, perusahaan asal Semarang yang menyediakan berbagai jenis kopi\nuntuk pasar lokal dan internasional. Lelaki itu pulalah yang memperkenalkan\nsaya pada Cahyo."}},"48":{"type":"paragraph","data":{"text":"Di Kota Lunpia, perusahaan yang lebih familiar dengan nama\nKopen Indonesia ini memang sudah cukup dikenal masyarakat, khususnya para\npencinta kopi. Nggak sedikit coffee shop\nyang mengambil kopi dari Kopen. Belakangan, suplier kopi grosir dan ecer itu\njuga mulai menjajaki pasar internasional."}},"49":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Kami bermitra, jadi kemungkinan kerja sama ini nggak cuma\nsekali,” lanjutnya, lalu tersenyum. Cahyo tentu patut merasa senang karena\npeminat kopi premium memang sangat spesifik. Dengan memiliki mitra tetap,\ncita-citanya memperbaiki nasib petani kopi di Temanggung tentu kian terbuka.\nWah!"}},"50":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/17021/large/normal/c42244c8-fe0d-4b97-92fe-f3cf9b8131ff__large.jpg"},"caption":"Penyortiran akhir green bean kopi Temanggung hasil petik merah. (Kopen.id/Agus Budi Sulistyo)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"51":{"type":"paragraph","data":{"text":"Cahyo mengatakan, semua keberuntungan yang didapatnya ini\nnggak lepas dari restu kedua orang tuanya. Dia mengaku bangga memiliki orang\ntua yang mengajarkan banyak hal."}},"52":{"type":"paragraph","data":{"text":"“Meski ndak bisa\nngomong langsung, sebenarnya merekalah orang yang berperan paling besar dalam\nhidup saya,” tandas Cahyo. Matanya berkaca, tapi mulutnya tersenyum lebar."}},"53":{"type":"ads"},"54":{"type":"paragraph","data":{"text":"Sebetulnya masih ada banyak pertanyaan yang pengin saya\najukan, semisal tentang coffee shop\nyang baru dia buka atau kopi moktail yang disajikannya. Namun, bakal jahat\nsekali kalau saya merusak romantisme yang tengah dirasakan Cahyo itu."}},"55":{"type":"paragraph","data":{"text":"Hujan sudah reda. Saya pun pamit sembari\nberjanji bakal datang lagi untuk mengulik lebih jauh tentang kafe Depan Rumah.\nTunggu cerita kami selanjutnya ya, Millens!\n(Galih PL/E03)"}},"56":{"type":"link","data":{"link":"https://inibaru.id/foto-esai/logam-yang-berdenting-lirih-di-bugangan-kampung-panci-dan-wajan-di-semarang","meta":{"url":"https://inibaru.id/foto-esai/logam-yang-berdenting-lirih-di-bugangan-kampung-panci-dan-wajan-di-semarang","type":"article","title":"Logam yang Berdenting Lirih di Bugangan, Kampung Panci dan Wajan di Semarang","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Penggusuran kawasan Barito di bantaran Banjir Kanal Timur rupanya berdampak signifikan bagi penjualan panci dan wajan di Kampung Tematik Logam di Bugangan Semarang.","image":"https://inibaru.id/media/16984/large/normal/ba1752b9-bdd2-46f7-af4d-dd93ffc1838c__large.jpg","image:secure_url":"https://inibaru.id/media/16984/large/normal/ba1752b9-bdd2-46f7-af4d-dd93ffc1838c__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}}},"version":"2.15.1"}