Bedhaya Ketawang, Tarian Sembilan Gadis yang Sakral bagi Wangsa Mataram

Setahun sekali, tepatnya pada peringatan penobatan Raja Paku Buwono, Tari Bedhaya Ketawang ditampilkan. Tari ini merupakan yang paling sakral dari Trah Mataram. Konon, Bedhaya Ketawang sering dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.

Bedhaya Ketawang, Tarian Sembilan Gadis yang Sakral bagi Wangsa Mataram
Bedhaya Ketawang ditampilkan dalam upacara peringatan penobatan Raja di Solo. (Pesona Travel) 
{"time":1607206588586,"blocks":{"7":{"type":"paragraph","data":{"text":"Inibaru.id – Kalau diblejeti dari namanya, bedhaya artinya perempuan\npenari, sementara ketawang berasal dari kata tawang yang memiliki arti langit. Nah, Tari\nBedhaya Ketawang kerap disebut sebagai tarian dari langit."}},"8":{"type":"paragraph","data":{"text":"Tapi ada versi lain lagi, Millens. Ada yang menyebut bahwa\nbedhaya merupakan bahasa Sansekerta budh yang berarti pikiran atau budi.\nKata ini kemudian berubah menjadi budaya. Tarian ini diciptakan melalui proses\nolah pikir dan rasa sebagaimana produk budaya lainnya."}},"9":{"type":"paragraph","data":{"text":"O ya, tarian ini dianggap sakral sehingga nggak sembarang penari\nbisa membawakannya. Ada syarat yang nggak bisa ditawar oleh sembilan gadis yang\nmembawakannya yaitu masih perawan dan nggak sedang datang bulan. Bukan cuma\nitu, mereka juga harus puasa beberapa hari sebelum pentas."}},"10":{"type":"header","data":{"text":"Asal Muasal Bedhaya Ketawang ","level":2}},"11":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/11187/large/normal/c39c30d8-5867-40f0-81ce-b1c6633f12bc__large.jpg"},"caption":"Lukisan 9 penari Bedhaya Ketawang yang salah seorangnya Kanjeng Ratu Kidul karya S Pandji (2006). (Nusantara News) ","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"12":{"type":"paragraph","data":{"text":"Tarian sakral tentu memiliki asal usul yang nggak biasa. Konon,\nraja ketiga Mataram yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645), sayup-sayup\nmendengar suara tembang dari arah langit ketika bersemedi. Kejadian itu\nmembuatnya terkesima."}},"13":{"type":"ads"},"14":{"type":"paragraph","data":{"text":"Usai semedi, Sultan menceritakan pengalamannya kepada empat\npetinggi setia keraton, yaitu Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran\nKarang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap. Mereka lantas meminta Sultan Agung\nuntuk menciptakan tarian. Kelak, tarian ini disebut Bedhaya Ketawang."}},"15":{"type":"paragraph","data":{"text":"Versi lainnya, tarian ini muncul pada masa pemerintahan raja\nsebelum Sultan Agung, yaitu Panembahan Senapati. Konon ketika bertapa,\nPanembahan Senapati bersenggama dengan Ratu Kencanasari yang kemudian\nmemunculkan tarian ini. Namun kenyataannya, syair tembang pengiring Bedhaya Ketawang\nberisi curahan hati Kanjeng Ratu Kidul kepada sang raja."}},"16":{"type":"link","data":{"link":"https://www.inibaru.id/tradisinesia/perang-pasca-perjanjian-giyanti-batik-pun-jadi-bahan-adu-budaya","meta":{"url":"https://www.inibaru.id/tradisinesia/perang-pasca-perjanjian-giyanti-batik-pun-jadi-bahan-adu-budaya","type":"article","title":"'Perang' Pasca-Perjanjian Giyanti, Batik Pun Jadi Bahan Adu Budaya","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Usai penandatanganan Giyanti, perang nggak sepenuhnya berhenti. Perseteruan ini hanya beralih rupa menjadi adu budaya. Nggak jarang kedua pihak, baik Kasunanan Surakarta maupun Kasultanan Yogyakarta saling mengolok lewat batik.","image":"https://www.inibaru.id/media/10185/large/normal/eee4737c-d84d-41fc-9cd3-3c90848ecaa6__large.jpg","image:secure_url":"https://www.inibaru.id/media/10185/large/normal/eee4737c-d84d-41fc-9cd3-3c90848ecaa6__large.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"17":{"type":"paragraph","data":{"text":"Dalam Kitab Wedhapradagna tertulis bahwa Bedhaya Ketawang\ndiciptakan oleh Sultan Agung. Sultan meminta bantuan Kanjeng Ratu Kidul untuk\nmengajarkan gerakan tarian kepada para penari kerajaan secara langsung. Diceritakan\nbahwa setiap malam Anggoro Kasih (Selasa Kliwon), para penari berlatih menarikan\nBedhaya Ketawang. Katanya lagi, salah seorang dari sembilan penari itu adalah Nyi Roro Kidul. Hmm! "}},"18":{"type":"header","data":{"text":"Menjadi Legitimasi Kekuasaan","level":2}},"19":{"type":"image","data":{"file":{"url":"/media/11188/large/normal/7ba89085-9c19-4aca-9983-919098c268ba__large.jpeg"},"caption":"Lukisan Nyi Roro Kidul karya Basuki Abdullah. (Dimensi News)","withBorder":false,"stretched":false,"withBackground":false}},"20":{"type":"paragraph","data":{"text":"Secara turun-temurun, tarian ini dibawakan setiap acara Tingalan\nJemenengan atau peringatan raja naik tahta di Keraton Mataram. Pasca-Perjanjian\nGiyanti pada 1755 yang membelah Kerajaan Mataram, tarian ini jatuh ke tangan Keraton\nKasunanan Surakarta."}},"21":{"type":"paragraph","data":{"text":"FYI, Bedhaya\nKetawang memang beda banget dari tari tradisional Jawa lain, Millens. Alur\ngerakan terasa lambat diiringi irama gamelan yang terdengar halus. Musik\npengiringnya adalah Gending Ketawang Ageng berdana pelog dengan instrumen\ngambang, rebab, gender, seruling, kethuk, kenok, gong, kendhang, dan kemanak."}},"22":{"type":"paragraph","data":{"text":"Selain berisi gending, pada babak-babak awal tarian ini terdapat\npula tembang durma. Kemudian dilanjutkan dengan tembang ratnamulya. Pada babak\nkedua, Bedhaya Ketawang berkisah tentang pernikahan raja dan Nyi Loro Kidul.\nNggak heran jika menampilkan gerakan sensual. Babak terakhir mengisahkan\nperpisahan raja dengan Kanjeng Ratu Kidul karena berbeda dunia."}},"23":{"type":"link","data":{"link":"https://www.inibaru.id/budaya/gemulai-tari-serimpi-memesona-di-mata-dunia","meta":{"url":"https://www.inibaru.id/budaya/gemulai-tari-serimpi-memesona-di-mata-dunia","type":"article","title":"Gemulai Tari Serimpi, Memesona di Mata Dunia","site_name":"INI BARU Indonesia","description":"Indonesia memiliki berbagai ragam seni dan juga budaya, ini dikarenakan banyaknya suku yang ada di Indonesia yaitu hampir 1500 suku tinggal di negeri dengan populasi terbesar ke 4 di dunia. Tiap suku memiliki ciri khas yang jadi daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah berbagai jenis tari tradisional Indonesia yang mewakili tiap suku masyarakat di negeri ini. ","image":"https://www.inibaru.id/uploads/kotawisataindonesia.jpg","image:secure_url":"https://www.inibaru.id/uploads/kotawisataindonesia.jpg","image:width":"470","image:height":"312"}}},"24":{"type":"paragraph","data":{"text":"Kamu mungkin bertanya-tanya kenapa Raja-raja Mataram, terutama pada\nmasa Panembahan Senopati dan Sultan Agung sering dikaitkan dengan Ratu Pantai\nSelatan dalam cerita lisan maupun babad. Sangat dimungkinkan hal ini nggak lepas\ndari upaya legitimasi kekuasaan para raja."}},"25":{"type":"paragraph","data":{"text":"Jadi begini, dengan menghubungkan dunia nyata dengan dunia gaib,\nseorang raja bakal mendapatkan legitimasi yang kuat. Keuntungannya mengurangi\nkemungkinan munculnya pemberontakan. Rakyat juga merasa tenang karena negaranya\ndilindungi kekuatan yang besar."}},"26":{"type":"paragraph","data":{"text":"Nggak heran jika tarian ini dipertahankan Paku Buwono III agar\ntetap di Kasunanan Surakarta ketika Giyanti. Sebagai tandingan, Kasultanan\nYogyakarta menciptakan tarian Bedhaya Semang. Hm, benar-benar perang budaya ya?"}},"27":{"type":"header","data":{"text":"Sembilan Gadis Penari","level":2}},"28":{"type":"paragraph","data":{"text":"Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, jumlah penari Bedhaya\nKetawang berjumlah sembilan. Angka ini dipercaya sebagai simbol 9 arah mata\nangin. Orang Jawa klasik meyakini ada 9 dewa yang menguasai sembilan arah mata\nangin tersebut (Nawasanga)."}},"29":{"type":"paragraph","data":{"text":"Kesembilan dewa tersebut adalah Wisnu (Utara), Sambu (Timur Laut),\nIswara (Timur), Mahesora (Tenggara), Brahma (Selatan), Rudra (Barat Daya),\nMahadewa (Barat), Sengkara (Barat Laut), dan Siwa (Tengah)."}},"30":{"type":"paragraph","data":{"text":"Nah, para penari mewakili masing-masing dewa yang menjaga keseimbangan\nalam mikrokosmos (jagat kecil) dan makrokosmos (jagat besar). Seperti itulah\npemahaman kosmologi masyarakat Jawa sejak ratusan tahun silam."}},"31":{"type":"paragraph","data":{"text":"Eits, masih ada pemaknaan lainnya, lo. Para penari Bedhaya Ketawang\nyang memakai pakaian pengantin basahan Surakarta menjadi simbol bahwa manusia\nharus bisa menutup 9 lubang di tubuhnya. Angka sembilan juga menggambrkan alam\nsemesta dan isinya yaitu matahari, bintang, bulan, angkasa (langit), bumi\n(tanah), air, angin, api, dan seluruh makhluk hidup yang ada di dunia. "}},"32":{"type":"paragraph","data":{"text":"Gimana, menarik banget ya Tari Bedhaya Ketawang ini. Kamu penasaran\nnggak dengan tarian ini, Millens? (Tumpi/IB21/E03)"}}},"version":"2.15.1"}